“Dialah yang menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian pemakmurnya.” (QS. Hud: 61)
Kata istamarrakum artinya Allah memerintahkan kita untuk memakmurkan, bukan merusak. Maka, ketika manusia menebang hutan tanpa kendali, membuang sampah sembarangan, merusak sungai dengan limbah, mencemari udara, dan mengeksploitasi alam hanya demi keuntungan sesaat—itu berarti ia telah menyelisihi amanah Allah.
2. Ketika alam diperlakukan tidak adil, alam dapat “marah” melalui bencana
Para ulama, termasuk ulama Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan Nahdlatul Ulama, sangat menekankan hubungan erat antara kelestarian alam dan stabilitas kehidupan manusia. Kerusakan alam bukan hanya fenomena ekologis, tetapi juga indikasi hilangnya keberkahan.
Allah memperingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Banjir yang semakin sering terjadi, tanah longsor yang memakan korban, kekeringan berkepanjangan, polusi udara, berkurangnya habitat hewan, rusaknya rantai ekosistem—semua ini adalah peringatan.
Bukan karena bumi jahat, tetapi karena manusia gagal mencintai bumi.
3. Nabi menghadirkan teladan tentang mencintai alam
Rasulullah SAW bersabda:
لَا تُسْرِفُوا فِي الْمَاءِ وَلَوْ كُنْتُمْ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ
“Janganlah berlebih-lebihan menggunakan air walaupun kalian berada di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad)
Ini menunjukkan bahwa menjaga alam bukan hanya urusan kebijakan besar, tetapi melekat pada ibadah harian. Dalam wudhu saja kita diajarkan tidak boros air, apalagi dalam mengelola hutan, sungai, tanah, dan energi yang jauh lebih besar dampaknya.
4. Cinta pada alam adalah manifestasi dari syukur

