HOLOPIS.COM, JAKARTA – Mengapa banyak tokoh besar, nabi, hingga para pakar pengembangan diri menekankan pentingnya bangun di sepertiga malam? Ternyata, di balik kesakralan shalat Tahajjud, tersimpan mekanisme neurologis luar biasa yang baru belakangan ini dikonfirmasi oleh sains modern.
Dalam sebuah unggahan video singkat yang viral, pengusaha dan pakar strategi digital, Denny Santoso, membedah rahasia ini dari sudut pandang gelombang otak. Meski ia merupakan seorang Kristiani, Denny mengakui kejeniusan di balik protokol shalat Tahajjud yang mengharuskan seseorang untuk tidur terlebih dahulu sebelum beribadah.
“Ternyata kita mencari gelombang Theta. Karena mau tidur dan bangun tidur itu adalah gelombang Theta. Gelombang Theta adalah gelombang yang paling nyambung sama Tuhan. Supaya kalau doa itu terkabul,” ujar Denny dalam poscat dengan Helmy Yahya yang dikutip Holopis.com.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan bahwa para teori tersebut sudah ada sejak era Nabi terdahulu, di mana mereka sudah memahami frekuensi ini sebagai jalur komunikasi langsung dengan Sang Pencipta.
“Nabi-nabi kita dari dulu banget itu sudah mengerti ini,” terangnya.
Mengapa Harus Tidur Dulu? Analisis Neurologis Gelombang Theta
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat kita terbangun di sunyinya sepertiga malam?
Secara sains, transisi menuju gelombang Theta (3,5 – 7,5 Hz) tidak bisa dicapai secara maksimal jika otak kita masih dibebani oleh “residu” aktivitas harian. Inilah alasan mengapa untuk mencapai Theta yang murni, seseorang disarankan untuk tidur terlebih dahulu.
1. Proses Pembersihan Residu Adrenalin dan Beta
Sepanjang hari, otak manusia didominasi oleh Gelombang Beta—frekuensi cepat yang digunakan untuk berpikir logis, bekerja, dan merasa cemas. Saat kita begadang tanpa tidur, otak tetap berada dalam mode “waspada” yang penuh dengan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Dengan tidur, otak melakukan proses synaptic pruning atau pembersihan koneksi saraf yang tidak perlu. Saat terbangun di sepertiga malam, otak berada dalam kondisi “bersih” dan secara alami berada di frekuensi Theta. Tanpa tidur, Anda hanya akan membawa kelelahan Beta ke dalam doa Anda, yang membuat fokus menjadi buyar dan sulit mencapai kekhusyukan.
2. Memanfaatkan Gerbang Hypnopompic
Kondisi saat baru bangun tidur disebut sebagai fase hypnopompic. Dalam fase ini, Prefrontal Cortex (pusat logika dan ego) belum sepenuhnya aktif. Di saat yang sama, Sistem Limbik (pusat emosi) dan Hipokampus (gerbang bawah sadar) sedang sangat aktif.
Dalam kondisi ini, “hijab” atau filter antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar terbuka lebar. Inilah saat di mana doa bukan lagi sekadar kata-kata di bibir, melainkan getaran yang bersumber dari kedalaman jiwa. Secara teoretis, frekuensi ini meminimalkan gangguan elektromagnetik internal tubuh, sehingga sinyal spiritual yang dipancarkan menjadi sangat koheren dan tajam.
3. Keheningan Sepertiga Malam dan Sinkronisasi Alam
Sepertiga malam (sekitar jam 02.00 – 04.00 pagi) secara ilmiah adalah waktu di mana gangguan elektromagnetik dari aktivitas manusia (polusi suara, sinyal elektronik, hiruk-pikuk pikiran kolektif) berada pada titik terendah.
Sejalan dengan teori Resonansi Schumann, ketika lingkungan luar tenang, otak lebih mudah melakukan entrainment atau penyelarasan dengan frekuensi rendah. Bangun di waktu ini bukan hanya soal jam biologis, melainkan menempatkan diri kita pada jendela waktu di mana atmosfer bumi berada dalam kondisi paling stabil. Bagi seorang mukmin, inilah saat “langit dunia” terbuka, yang secara neurologis berarti frekuensi otak kita selaras dengan frekuensi kesadaran semesta (Arsy).
Kesimpulan adalah, Shalat Tahajjud bukan sekadar ritual tanpa makna. Ia adalah teknologi spiritual yang memanfaatkan ritme biologis manusia. Dengan tidur terlebih dahulu dan bangun di sepertiga malam, Anda sedang memindahkan “gigi” otak Anda ke frekuensi Theta—sebuah jalur khusus di mana suara hati Anda terdengar lebih keras di hadapan Sang Maha Kuasa.

