HOLOPIS.COM, JAKARTA – Shalat Witir adalah penutup ibadah malam yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu ganjil (witir) dan menyukai yang ganjil, maka shalat witirlah wahai ahli Al-Qur’an.” (HR. Abu Dawud).
Tata cara shalat Witir bisa dilakukan dengan berbagai jumlah rakaat (biasanya 1 atau 3 rakaat), namun yang paling umum dilakukan saat Ramadan di Indonesia adalah 3 rakaat.
Ada dua metode pelaksanaan untuk 3 rakaat: 3 rakaat satu kali salam (langsung) atau 2 rakaat (salam) ditambah 1 rakaat (salam).
1. Metode 2 Rakaat + 1 Rakaat (Terpisah)
Ini adalah metode yang paling sering digunakan saat berjamaah di masjid.
Bagian Pertama: 2 Rakaat
Niat: Ushallî sunnatal witri rak’ataini lillâhi ta’âlâ.
(Aku niat shalat sunnah witir dua rakaat karena Allah ta’ala).
– Rakaat Pertama: Membaca Al-Fatihah dan surat (disunnahkan Al-A’la).
– Rakaat Kedua: Membaca Al-Fatihah dan surat (disunnahkan Al-Kafirun).
– Tahiyat Akhir dan Salam.
Bagian Kedua: 1 Rakaat (Penutup)
Niat: Ushallî sunnatal witri rak’atan lillâhi ta’âlâ.
(Aku niat shalat sunnah witir satu rakaat karena Allah ta’ala).
– Rakaat Tunggal: Membaca Al-Fatihah dan 3 surat sekaligus (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas).
– Qunut (Opsional): Jika sudah masuk malam ke-16 Ramadan, membaca doa Qunut setelah rukuk sebelum sujud.
– Tahiyat Akhir dan Salam.
2. Metode 3 Rakaat Sekaligus (Satu Kali Salam)
Metode ini dilakukan langsung 3 rakaat tanpa tahiyat awal di rakaat kedua (agar tidak menyerupai shalat Maghrib).
Niat: Ushallî sunnatal witri tsulâtsa raka‘âtin lillâhi ta’âlâ.
(Aku niat shalat sunnah witir tiga rakaat karena Allah ta’ala).
– Rakaat 1-2: Seperti shalat biasa, namun setelah sujud kedua rakaat kedua, langsung berdiri tanpa duduk tahiyat.
– Rakaat 3: Membaca Al-Fatihah dan surat pendek.
– Tahiyat Akhir dan Salam.
Hal-Hal Penting dalam Witir
Jika Anda sudah Witir bersama imam setelah Tarawih, lalu bangun malam untuk Tahajud, Anda tidak perlu menutup Tahajud dengan Witir lagi. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada dua Witir dalam satu malam.”
Kemudian untuk waktu shalat Witir, dimulai setelah shalat Isya hingga terbit fajar (Subuh). Dan Witir paling sedikit dikejakan sebanyak 1 rakaat. Jika Anda sangat lelah atau waktu Subuh sudah mepet, 1 rakaat saja sudah sah sebagai Witir.
Berikut adalah panduan mengenai sunnah-sunnah dalam shalat Witir serta doa setelah melaksanakannya:
Sunnah-Sunnah dalam Shalat Witir
Agar ibadah Witir menjadi lebih sempurna sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW, ada beberapa kesunnahan yang dapat diamalkan:
1. Membaca Surat Tertentu:
– Pada rakaat pertama disunnahkan membaca surat Al-A’la.
– Pada rakaat kedua disunnahkan membaca surat Al-Kafirun.
– Pada rakaat ketiga disunnahkan membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
2. Membaca Qunut (Mulai Pertengahan Ramadan):
Disunnahkan membaca doa Qunut pada rakaat terakhir shalat Witir mulai malam ke-16 hingga akhir bulan Ramadan.
3. Melaksanakan di Akhir Malam:
Jika seseorang yakin akan bangun malam untuk tahajud, Witir sebaiknya diakhirkan. Namun, saat Ramadan, Witir lazim dilakukan berjamaah setelah Tarawih agar mendapatkan keutamaan shalat malam bersama imam hingga selesai.
4. Dikerjakan secara Berjamaah:
Khusus di bulan Ramadan, shalat Witir disunnahkan dilakukan secara berjamaah sebagai syiar Islam.
Dzikir dan Doa Setelah Shalat Witir
Setelah salam, disunnahkan membaca tasbih sebanyak 3 kali:
Subhânal malikil quddûs (3x)
(Maha Suci Tuhan Yang Merajai lagi Maha Suci) >
Pada bacaan ketiga, disunnahkan menyuarakan lebih keras/panjang lalu menyambung dengan:
Subbûhun quddûsun rabbunâ wa rabbul malâ’ikati war rûh.
Doa Setelah Witir (Teks Arab)
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ. اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Teks Latin
Allâhumma innâ nas’aluka îmânan dâ’iman. Wa nas’aluka qalban khâsyi‘an. Wa nas’aluka ‘ilman nâfi‘an. Wa nas’aluka yaqînan shâdiqan. Wa nas’aluka ‘amalan shâlihan. Wa nas’aluka dînan qayyiman. Wa nas’aluka khairan katsîran. Wa nas’aluka al-‘afwa wal ‘âfiyah. Wa nas’aluka tamâmal ‘âfiyah. Wa nas’aluka asy-syukra ‘alal ‘âfiyah. Wa nas’aluka al-ghinâ’a ‘anin-nâs. Allâhumma rabbanâ taqabbal minnâ shalâtanâ wa shiyâmanâ wa qiyâmanâ wa takhasysyu‘anâ wa tadlarru‘anâ wa ta‘abbudanâ wa tammim taqshîranâ yâ Allâh yâ Arhamar râhimîn.
Terjemahan
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang langgeng, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, amal yang shaleh, agama yang lurus, dan kebaikan yang melimpah. Kami memohon ampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, rasa syukur atas kesehatan, dan kecukupan sehingga kami tidak bergantung pada orang lain. Ya Allah, Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, shalat malam kami, kekhusyukan kami, rendah diri kami, dan ibadah kami. Sempurnakanlah kekurangan kami, ya Allah, Wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.”

